Deli Serdang, Suarametro.net – Matahari baru saja naik ketika deretan seragam putih-biru duduk bersila di pelataran sekolah yang terkunci. Tak ada suara bel berbunyi, tak ada guru menyambut di pintu kelas. Hanya barisan tas sekolah di atas tanah dan wajah-wajah kecil yang kebingungan. Di belakang mereka, plang segel dari Pemerintah Kabupaten Deli Serdang terpampang di pintu bangunan—tempat mereka biasa belajar.
Sekolah milik Al-Washliyah di Desa Petumbukan, Kecamatan Galang, disegel pemerintah daerah sejak Minggu, 6 Juli 2025. Padahal, Senin (14/7) itu adalah hari pertama masuk sekolah.
“Iya, gedung sekolah Al-Washliyah disegel Pemkab Deli Serdang,” kata Ketua PW Al-Washliyah Sumatera Utara, Dedi Iskandar Batubara, kepada awak media.
Gedung yang disegel merupakan milik Pemkab Deli Serdang, namun dibangun di atas tanah wakaf milik Al-Washliyah. Konflik soal status kepemilikan ini sudah lama bergejolak, bahkan sejak masa pemerintahan Asri Ludin Tambunan sebagai Bupati. Saat itu, gedung ini memang telah diberikan untuk dipakai oleh lembaga pendidikan Islam tersebut.
Namun semua berubah. Minggu pagi, petugas Satpol PP, Kepala Dinas Pendidikan Deli Serdang, dan aparat lainnya mendatangi kompleks sekolah. Mereka meminta agar gedung dikosongkan dalam waktu dua hari. Alasannya: bangunan itu akan digunakan oleh SMP Negeri 2 Galang.
“Petugas datang, menyampaikan perintah agar gedung dikosongkan karena akan dipakai sekolah negeri,” ujar Dedi.
Padahal, menurut Dedi, sudah pernah ada kesepakatan antara Al-Washliyah dan Pemkab bahwa bangunan itu akan dihibahkan. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai tak serius menuntaskan proses hibah yang dijanjikan.
“Sudah ada penyampaian dari Dinas Pendidikan bahwa gedung itu akan dihibahkan untuk keperluan pendidikan Al-Washliyah,” katanya. “Tapi kenyataannya, penyegelan ini membuktikan bahwa pemerintah tidak konsisten.”
Tak hanya soal janji yang gagal ditepati, keputusan penyegelan ini juga menimbulkan luka yang nyata. Anak-anak yang seharusnya menyambut tahun ajaran baru dengan semangat, justru harus belajar di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Beberapa guru tampak mencoba menenangkan siswa yang menangis, sementara yang lain merapikan meja darurat di bawah pohon.
“Bagaimana anak-anak ini mau belajar kalau sekolahnya disegel?” ucap seorang wali murid dengan mata basah. “Kami rakyat kecil, sekolah ini harapan kami.”
Di tengah panasnya matahari dan suasana duka pagi itu, Al-Washliyah menggelar rapat darurat. Ketua Al-Washliyah Deli Serdang, lembaga aset, majelis pendidikan, dan seluruh jajaran organisasi dikumpulkan untuk mencari jalan keluar.
Namun hingga berita ini ditulis, belum ada titik terang. Yang tersisa hanyalah tanya—tentang nasib pendidikan anak-anak desa, dan tentang janji yang tak ditepati. (MAS)