Baru habis lapor ke polisi soal peredaran narkoba, malamnya rumah dilempar molotov. Jadi siapa yang harus ditakuti-bandar sabu atau oknum yang memiliki seragam ?
Di negeri yang konon katanya “bertuah”, seorang warga yang bernama Jono malah kena musibah. Bayangkan, niatnya cuma satu: melaporkan peredaran narkoba di kampungnya. Tapi yang datang ke rumahnya bukan petugas. Yang mampir justru molotov. Tengah malam. Langsung meletup di jendela kamar anaknya.
“Ini bukan film action, Somad. Ini Langsat!” kata Bagus, sambil nyeruput kopi sachet tiga kali seduh yang udah mirip air rendaman batu akik.
Somad geleng kepala. “Jadi kalau kita lapor bandar, yang datang bukan petugas… tapi bom? Wih, pantesan warga pada diem. Bukan apatis, Gus. Mereka lagi nunggu waktu yang tepat: waktu pindah rumah.”
Senin (5/5/2025), sekelompok massa yang menamai dirinya Seikat Massa Tampung Rakyat (SEMESTER) turun ke jalan. Mereka berdiri di depan Mapolres Langsat, bukan buat minta tanda tangan atau selfie sama Kapolres. Tapi pasang spanduk gede bertuliskan: “Copot Kapolres Langsat!”
Satu kalimat pendek, tapi isinya: muntahan kecewa.
Kenapa bisa begini? Karena Langsat bukan cuma langganan cerita narkoba. Tapi juga langganan rasa tak percaya.
Bayu, salah satu orator di aksi itu, menyebut dirinya pernah melaporkan langsung informasi bandar kepada Kasat Narkoba. Tapi bukan ucapan terima kasih yang ia dapat, melainkan tamu malam hari yang nadanya setengah ancam, “Kenapa, tak senang kau kami jualan sabu di situ?”
Biasa kan? Enggak. Karena ini artinya: informasi bocor. Sangat bocor. Lebih bocor dari atap kantor desa waktu musim hujan.
Kalau Somad bilang, “Gini-gini aku dulu pernah percaya polisi. Tapi sejak warung kopi sebelah jadi tempat transaksi togel, kepercayaanku runtuh bareng cangkirnya.”
“Dan kenapa gak pernah digerebek?” tanya Bagus.
Somad jawab enteng, “Mungkin karena yang duduk di sana, abang-abang berseragam juga.”
Lucunya, sampai orasi selesai, Kapolres AKBP Daud Trio Projo tak kunjung nongol. Entah karena sibuk, atau karena… ya, malas saja. Massa sempat ancam mau bermalam di depan Mapolres.
Ini bukan cuma soal narkoba, Bung. Ini tentang rasa takut yang dipelihara. Tentang warga yang memilih bungkam daripada dibakar. Dan tentang aparat yang lebih cepat menilang pengendara tak pakai helm, ketimbang menangkap gembong narkoba yang udah dicentrang datanya.
Yang ironis, informasi tentang bandar narkoba sudah bertebaran kaya debu di dashboard mobil. Bahkan, nama-namanya disampaikan langsung. Tapi sampai artikel ini diketik, belum satu pun berhasil ditangkap.
“Kalau ketangkap, nanti kosong pemasukan,” celetuk Bagus pelan.
Dan seperti mau memvalidasi semua ini, rumah Jono Pratama – seorang jurnalis media online – dilempar molotov. Jumat (11/4/2025), tengah malam, ledakan kecil terjadi. Kaca pecah. Gorden kamar anak terbakar. Dinding rumah gosong. Tapi pelaku? Masih misterius. Sudah hampir sebulan, dan aparat belum juga mampu menjawab satu pertanyaan: siapa pelakunya?
Somad berdecak. “Di sini nih yang gawat. Kalau kita marah, dibilang tak bawa data. Kalau kita bawa data, kita dibakar.”
“Padahal yang bakar bukan api neraka,” sahut Bagus. “Tapi orang-orang yang takut kehilangan lahan.”
Bayu bilang tegas dalam orasinya: “Kalau Kapolres dan jajarannya tidak mampu memberantas narkoba, perjudian, dan premanisme, maka sebaiknya mundur.”
Kalimat ini mungkin terdengar biasa. Tapi buat warga Langsat, ini seperti menyalakan korek api di tengah gudang bensin. Karena banyak yang berpikir begitu, cuma tak ada yang berani mengucapnya.
Karena faktanya, siapa pun yang membuka suara, hidupnya bisa berubah jadi target.
Dan ini bukan tudingan. Ini realita. Bukti sudah ada. Rumah sudah terbakar. Nyawa sudah di ujung takut.
Mungkin, satu-satunya yang belum ikut terbakar adalah kepercayaan publik. Walau kecil, masih ada sumbu yang menyala. Massa di jalan, jurnalis yang tetap menulis, warga yang masih melapor.
Langsat harus diselamatkan. Dari narkoba. Dari judi. Dan dari ketakutan. Somad bilang sambil nyalain rokok lintingannya:
“Kalau negeri bertuah ini dibiarkan, nanti anak-anak kita bukan lagi bercita-cita jadi dokter. Tapi jadi gembong yang tak tertangkap.”