Diksi  

Sarden Mili, Dendam Sunyi dan Toko yang Tak Pernah Tidur

Dua tahun mencuri, bukan karena lapar semata, tapi ada luka yang tak terucap. Kisah seorang perempuan, seonggok sarden, dan ratusan juta yang lenyap diam-diam.

Di ujung Pekanbaru, di sebuah toko sederhana yang menjual kebutuhan harian, dunia yang kita kenal—yang penuh etika, kamera CCTV, dan kas bon—tiba-tiba runtuh oleh satu kenyataan: seorang wanita mencuri sarden selama dua tahun. Bukan dua hari. Bukan dua minggu. Dua tahun. Dan tak ada yang sadar.


Namanya M. Usianya 34. Tak ada yang tahu pasti apa arti ‘M’ itu. Bisa saja singkatan dari Miskin, atau Marah, atau Mengais hidup. Ia langganan tetap di Kedai Tisman, milik Felda Tisma, 32 tahun, perempuan tangguh yang membesarkan toko dari modal warisan orang tua dan mimpi kecil jadi juragan sembako.


“Awalnya saya percaya dia. Orangnya sopan. Nggak neko-neko. Tapi kok barang mulai hilang pelan-pelan,” ujar Felda dengan suara serak dalam video interogasi yang viral di Facebook.


Mulanya Felda tak curiga. Tapi seperti cinta yang mulai goyah karena perasaan yang tak bisa dijelaskan, ia akhirnya memasang CCTV. Dan pada tanggal 30 April, ia melihat rekaman yang membuat tubuhnya menggigil. M, perempuan itu, menyelipkan kaleng-kaleng sarden merek Mili ke balik bajunya. Rapi. Lihai. Seperti sudah dilatih dari hidup yang tak pernah adil.


“Setiap kali dia datang, kayak ada perasaan nggak enak. Tapi saya terus menyangkal. Masa sih? Dia kan udah kayak keluarga. Tapi ternyata…”
Ternyata benar. Dan bukan hanya sekali. Setelah dihitung-hitung dari jumlah stok yang tak seimbang, perkiraan kerugian mencapai Rp100 juta.


Keesokan harinya, 3 Mei, Felda tak langsung bertindak. Ia pura-pura tak tahu. Dibiarkannya M memilih barang, membayar seperti biasa, dan saat itu, 19 kaleng sarden kembali ditemukan di balik pakaian. Tak perlu anjing pelacak. Naluri perempuan yang sudah patah kepercayaannya jauh lebih tajam.


“Saya tanya baik-baik, tapi dia diam. Hanya matanya yang penuh air. Tapi bukan air mata menyesal. Seperti orang yang sudah capek menjelaskan sesuatu yang dunia nggak mau dengar.”


Ada yang janggal. M bukan pencuri biasa. Ia bukan tipikal ‘ambil lalu kabur’. Ia rutin datang, belanja, ngobrol, bahkan kadang bawa cemilan. Seperti sedang menunaikan ritual hidup.
“Saya cuma bisa bilang: kenapa? Kenapa nggak bilang aja butuh bantuan?” tanya Felda lagi, tapi jawabannya tetap sama: diam. Diam yang panjang dan menyayat.


Beginilah nasib negeri yang harga BBM bisa naik dalam sehari, tapi rasa percaya antar manusia merosot pelan-pelan. Kita diajari sedekah di bulan Ramadan, tapi waspada kalau ada ibu-ibu yang bajunya kedodoran di depan rak sarden.


M mencuri sarden. Tapi siapa mencuri hak hidupnya? Siapa mencuri sistem sosial yang harusnya menopangnya?


Kita semua tergelincir dalam sistem yang menuntut orang miskin hidup dengan bermartabat, padahal martabat itu kini dijual di rak promo.


Kisah M bukan sekadar pencurian. Ia adalah cermin. Tentang bagaimana masyarakat bisa membusuk diam-diam di balik etalase toko yang terang.


Felda kehilangan ratusan juta, M kehilangan martabat, dan kita semua kehilangan sesuatu yang lebih besar: kepercayaan bahwa negeri ini masih punya ruang bagi orang kecil untuk hidup tanpa harus mencuri.


Sarden itu hanya pemicu. Yang sesungguhnya hilang adalah sistem yang membiarkan orang lapar tapi tak mengulurkan tangan.


Dan hari ini, di Indonesia, di manapun kita membaca ini, mari tanyakan diam-diam ke dalam hati: kalau aku di posisi M, apakah aku juga akan mencuri?
Atau lebih mengerikan lagi: aku sudah mencuri—tapi dari kemanusiaanku sendiri

Untuk kita semua yang mengaku peduli hukum: bukan hanya penjara yang harus kita buka, tapi juga telinga dan hati kita. (MAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: